Monday, September 17, 2007

Jangan Berbuka Dengan Yang Manis-manis

Tips Ramadhan 1428H
Ada tulisan bagus dari milis tetangga tentang buka puasa, tapi saya juga
tidak tahu kebenarannya..

Jangan Berbuka Dengan Yang Manis-manis
Oleh Herry Mardian

SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat
‘Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya.
Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan
Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka
beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma
kering beliau meneguk air”. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka
hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka
berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma,
beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan ‘yang
manis-manis’? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate) .
Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang
manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah
karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) .

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak
jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka
puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah ’sunnah Nabi’.
Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan
makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru
merusak kesehatan.

Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa
‘disunnahkan’ minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya,
Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang
manis-manis.
Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar
merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah,
sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma yang
didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa
‘manisan kurma’, bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru
ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam
perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih
asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya
menjadi sangat mahal.

Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?
Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang
dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula
(karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu
diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang
manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak
sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.

Mari kita bicara ‘indeks glikemik’ (glycemic index/GI) saja.
Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam
tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan
itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula
menghasilkan respons insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat
menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa
mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa?
Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun
lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.

Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan
gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya) , sehingga
respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh
akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi
Allah ‘ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila
berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu
sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan pernah
makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu
jawaban beliau. Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang
ada di Indonesia adalah ‘manisan kurma’, bukan kurma asli. Manisan
kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.

Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk
diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak
melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh
untuk menabung lemak juga rendah.
Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru
lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong,
paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung
membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga
tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa.

Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat
seperti ‘buah pir’, penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum
masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah
’sunnah’, maka puasa bukannya malah menyehatkan kita. Banyak orang di
bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk
karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas, maka
efeknya ‘rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.’

Nah, saya kira, “berbukalah dengan yang manis-manis” itu adalah
kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka diatas.
Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan)
berbuka harus dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi
waham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah
masyarakat. Yang jelas, ‘berbukalah dengan yang manis’ itu
disosialisasikan oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan
suci Ramadhan.
Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan
hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan
yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin
juga para sahabat yang lain, ingin sekali tahu.

Semoga tidak termakan waham umum ‘berbukalah dengan yang manis’.
Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama.
Periksa dulu kebenarannya.

Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: “Makanlah hanya ketika
lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang.” Juga, isi sepertiga
perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan
kosong.

“Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar
barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang,” kata
Rasulullah.

“Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk
daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang
belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah
sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan
sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban
dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma’di Kasib)

Semoga bermanfaat….

3 comments:

Ropheka said...

Nice Blog :)

bapake kautsar, thariq n sulthan said...

terus bagaimana cara membedakan kurma tanpa tambahan pemanis dengan yang asli ?

Oman79 said...

"Dahulukan berbuka dengan yg manis**" it kata Rasulullah SAW, bkan "berbukalah dengan yg manis**"

Anda slah perspektif tntang hal ini

Karna seharian kita berpuasa tubuh kita akan menjadi lemas, dan untk membangkitkan energi dengan "memulai" dengam yg manis**.

Dokter jga menganjurkan. Contohnya pada saat pagi hari ktika akan brangkat melakukan aktifitas dokter menganjurkan untuk meminum teh manis ataupun susu terlbih dahulu untuk menambah energi pada diri kita.

Dalam konteks ini kata "memulai" yg berarti tidak berlebih** an/meneruskan, karna اَللّهُ SWT Jga tidak
Suka dengan hal yg berlebih-lebihan.

Jdi, yg diajarkan Rasulullah SAW tentang hal ini sungguh tepat, dan Beliaulah dokter yg pertama

Afwan